SUMENEP, diluartv.id- Andai saya Bupati. Sudah pasti ganti HP. Telepon bisa berdering setiap hari. Pesan singkat, laporan, datang terus. Kapasitas harus besar, batere cari yang kuat. Gak harus canggih, yang penting itu tadi, kapasitas dan batere.
Andai saya Bupati, saya harus bangun sejak pagi. Karena tak jarang, acara seremonial dimulai pukul 7. Berdiri saat sambutan. Lalu jalan lagi ke acara lain.
Andai saya Bupati, hari libur tak benar-benar kosong. Menerima tamu yang mungkin datang ke rumah. Telepon tetap standby. Walau bisa saja, meluangkan waktu untuk sekedar menyiram bunga. Atau nyalurkan hobi lain menyanyi dan main gitar.
Andai saya Bupati. Jadi susah untuk keluar malam. Apalagi sampai masuk ke tempat hiburan malam. Banyak yang kenal, kena foto, jadi preseden buruk. Mau jalan di lingkungan apapun harus jaga sikap. Tidak boleh bicara sembarangan, menghindari ceplas-ceplos. Itu berbahaya.
Andai saya Bupati. Harus pasang mata-mata di semua lini. Bukan untuk perang sih. Tapi sekedar cara untuk mengetahui semua circle di sekitar. Contoh, pasang ASN yang tahu seluk beluk anggaran. Tahu potensi kebocorannya. Tahu capaian kinerja OPD se Kabupaten.
Andai saya Bupati. Harus netral dalam konflik perebutan jabatan. Karena sudah pasti, ASN yang saya pimpin saling sikut untuk menduduki jabatan tertentu. Memilih orang yang tepat memang sulit. Bukan tentang ingin mencari uang serapan proyek. Tapi lebih ke hal penting lainnya: mencari pejabat yang bisa amanah dan tak korup. Karena dimanapun, pejabat ASN korup sering juga menjerat sosok Bupatinya.
Andai saya Bupati. Saya mau pakai mobil solar saja. Lebih hemat. Sopir, pakai teman dekat, karena lebih kenal. Ajudan, cari yang diam, gak banyak omong.
Andai saya Bupati. Ya, siap dikritik apapun, kapanpun. Jalan rusak, sekolah rusak, bantuan bermasalah. Semua saya catat. Cari yang lebih urgen. Kalau didemo, ya saya hadapi. Lha kalau didemo lagi, baru saja ajak bicara empat mata.
Andai saya Bupati. Nomer handphone ya tetap ini. Saya gak akan ganti. Mungkin nambah satu HP lagi beserta nomer baru. Cukup itu.
Jadi Bupati, saya harus memilih wakilnya. Siapa?
Penulis : Didik Setia Budi







