SUMENEP, diluartv.id- Kenapa orang malas jadi Jurnalis TV Nasional Daerah? Panggilan kerennya: Koresponden, Kontributor, atau Video Jurnalis. Saya ceritakan sedikit ya. Ini tulisan asli, bukan AI. Kita buka-bukaan saja.
Sekarang tahun 2006, ada sekitar 26 TV Nasional yang mengudara. Sebagian TV Nasional itu harus mampu menjangkau daerah manapun. Maka ditunjuklah seorang jurnalis. Dia meliput agenda yang jadi arahan kantornya. Biasanya berita besar, isu besar, hal penting.
Apakah Jurnalis TV bisa meliput berita sesuai keinginannya? Tentu tidak, semuanya sudah terencana. Kebijakan berita ada di stasiun pusat. Ya kalau mau coba-coba kirim berita, bisa saja. Tapi kebanyakan kecewa. File-file video yang dikirim hanya akan dilirik sekilas, lalu masuk ke deretan berita terbuang. Susah kan.
Lalu bagaimana di Madura, ya pasti ada juga Jurnalis TV Nasional. Apakah setiap hari mereka meliput daerah. Ya tidak lah, buat apa juga. Paling banter seminggu liputan dua hari saja. Itu pun kalau ada.
Kehidupan Jurnalis TV Nasional terbilang unik. Ikatan kerja yang kontroversi. Berseragam sedih. Ya begitulah. Perjuangan naik kasta menjadi karyawan tetap sudah puluhan tahun dilakukan. Hasilnya tetap sama, tanpa kejelasan. Beberapa berani keluar, tapi ada juga yang bertahan. Alasannya sederhana, agar tetap menyandang gengsi sebagai Jurnalis TV Nasional.
Industri TV Nasional tak seindah yang dibayangkan orang. Ini adalah bisnis. Makin tahun, makin tak menentu nasib Jurnalis TV daerah. Jalan di tempat, kehujanan kepanasan.
Anda punya TV? Nyalakan sekarang. Tontonlah berita apa saja. Lihat, barangkali daerahmu muncul disana. Kalau ada, kabarin saya.
Ini tulisan asli, bukan AI. Kita buka-bukaan saja.
Penulis : Didik Setia Budi







