SUMENEP, diluartv.id- Namanya Hasan, umur dia lupa. Agak tua lah, sekitar 60an. Setiap hari Hasan jadi pengatur lalu lintas. Berdiri di pertigaan Sumekar, pakai rompi kuning. Kalau capek, barulah Hasan ngopi di warung langganan saya. Namanya Warkop Kak Jamal.
Hasan sering ngajak saya bicara politik. Mulai dari isu Pilkades, hingga mengkritisi kebijakan Presiden. Siang itu, tiba-tiba dia bertanya: Mas, gak marah disebut Londo Ireng? Saya simak terus pertanyaannya. Kok wartawan se Indonesia banyak yang protes, Mas? Hasan terus mencecar.
Saya biarkan dulu Hasan menyalakan rokoknya, kretek. Wajahnya lelah. Kami mulai diskusi.
Istilah Londo Ireng memang dari dulu ada kok. Di Sumenep saja ada. Bahkan sejarah Keraton Sumenep juga kental dengan perjalanan Londo Ireng. Artinya orang Pribumi yang bekerja ke penguasa asing. Adipati Sumenep saat itu, kan kerja ke Belanda dan Inggris. Tanya saja ke Sejarawan Madura kalau gak percaya.
Hasan diam, menatap saya dalam. Rokok kreteknya dihisap kuat.
Berarti sampean gak marah mas, disebut Londo Ireng? Hasan kembali bertanya.
Saya jawab, kenapa harus marah. Beda lagi andai Prabowo bilang Wartawan Blendheh. Kalau pakai sebutan itu, ya saya agak marah.
“Iya lah, Mas, terserah sampean gak marah!
Sepertinya Hasan kecewa dengan jawaban saya.
Penulis : Didik Setia Budi







