SUMENEP, diluartv.id- Tengah malam, saya ditelepon seseorang. Nomor asing. Saya angkat, rupanya dia merespon tulisan saya berjudul “Andai Saya Jadi Bupati”.
Betul dengan Pak Didik Setia Budi? Katanya.
Iya, betul, Pak. Dengan saya sendiri. Ada apa ya, Pak? Saya tanya balik.
Besok kita ngobrol sedikit ya Pak, tentang rencana maju Pilkada. Intinya setuju. Bapak yang jadi Bupatinya, kami Wabupnya lah.
Ok Pak, nanti saya ajak Lembaga Survey untuk melihat tingkat elektabilitas semua calon, termasuk kita. Mereka akan presentasi, kita dengarkan paparan saja. Kata si penelepon melanjutkan.
Ok lah, jawab saya. Tapi visi misi kita apa, Pak? Tanya saya.
Ah, gampang itu. Nanti ada yang buatkan. Yang penting uang. Yang lain urusan kecil, jawab si penelepon.
‐——————
Di sebuah ruangan, pria Lembaga Survey bicara panjang lebar. Semua calon dan nama-nama dikaji dalam. Di papan ada nama Pengusaha Sukses, Birokrat, ada juga Tokoh Agama. Skema perang politik pun dibuat. Sebuah taktik, strategi, dan jurus lapangan.
Setelah selesai, saya kembali bertanya. Visi Misi kita apa, Pak?
Ah, gampang itu. Urusan kecil, yang penting uang. Visi misi dan sekuat apapun figur kandidat, kembali lagi ke uang. Kata pria Cawabup yang akan mendampingi saya.
Pandangan saya masih tertuju ke papan putih. Deretan nama-nama calon kandidat Pilkada.
Gimana, Pak Didik? Jadi nyalon? Tanyanya.
“Pikir-pikir dulu lah, pamit dulu, Pak,” jawab saya.
Ok Pak, jangan kebanyakan visi misi. Ada uang, pasti menang..!
Penulis : Didik Setia Budi







