SUMENEP, diluartv.id- Saya sangat senang, saat Mazdon, Pemimpin Redaksi Dimadura.id bersua di tulisan saya. Karena sebaliknya, saya pun hafal dan akrab dengan semua yang melekat dengannya. Motor vario biru, tas gendong, dan sepatu pantofel hitam. Pertama bertemu Mazdon, dia masih berstatus sebagai Guru SMP. Style nya tentu khas seorang pendidik. Celana kain dan baju lengan panjang dimasukkan. Ditambah sabuk kulit hitam di pinggang, menambah wibawanya.
Tapi diluar itu, hal penting yang tetap saya ingat dari Mazdon adalah semangatnya.
Peristiwa ini akan saya kenang sepanjang hidup saya. Sebuah momen sederhana, saat Mazdon yang seorang Guru menyampaikan tekadnya di sebuah meja kantor. Saya mau berhenti jadi Guru, insyaallah sudah mantap menggeluti dunia wartawan. Kata Mazdon pendek. Pandangannya sayu, menatap ke jendela nako hitam. Saya tahu, pikirannya berkecamuk.
Saya tidak menyela, tidak merespon berlebihan juga. Di momen itu, saya biarkan Mazdon memutuskan, sebuah hal, yang pasti akan merubah jalan hidupnya. Dan, pilihannya tetap bulat: menjadi wartawan dan membangun media sendiri. Lahirlah Dimadura.
Di awal, tidak banyak media yang bisa menyamai spesialisasi dimadura dalam hal konten berita. Media ini adalah media yang terbilang langka di Pulau Madura. Sebuah website berita yang menjadikan basis seni budaya sebagai informasi utamanya.
Dengan latar belakang Mazdon sebagai Guru Bahasa Madura, tentu memimpin media seni budaya adalah hal mudah. Betul saja, 3-4 tahun berlalu. Mazdon tetap menjadi ‘Guru’ di ruang lain, yakni media. Dan Dimadura, menjadi website budaya lokal rujukan saat itu. Ratusan paribasan Madura, Puisi, Dongeng Madura, Sejarah Madura, terangkum di media ini. Ribuan artikel, Ribuan foto.
Sebagai seorang Wartawan, saya sangat respect dengan terobosan Mazdon. Disaat pemerintah, khususnya Pemkab Sumenep ‘ABAI’ dalam mengelola informasi Seni Budaya nya sendiri. Anda tahu kan, coba sebutkan satu website saja yang mau mendedikasikan diri sebagai jendela informasi budaya kita? Hanya ada satu dua, Dimadura.id diantaranya. Media-media ini dibangun dengan dana pribadi, tanpa anggaran pemerintah, yang disatu sisi sedang dijaga sejarah dan budayanya.
Saya beri gambaran sedikit agar semua sadar. Kita ini, Sumenep khususnya, sedang krisis literasi budaya sendiri. Sejarah juga sama. Dan ini telah berjalan lama. Semua diam. Perpustakaan Daerah, termasuk Arsip Sumenep juga tidak dapat berbuat banyak. Mereka kehilangan banyak Sejarah panjang dirinya sendiri.
Satu contoh sederhana, coba tampilkan foto/video saat DPRD Sumenep masih berada di Hotel Utami Sumekar? Coba tampilkan foto/video saat RSUD Sumenep masih ada di seberang Keraton Sumenep? Coba tampilkan foto/video saat terminal Sumenep masih berada di Tajamara? Ya, kita sudah kehilangan Sejarah.
Dalam konteks budaya pun sama, ada berapa ratus tradisi dan nilai arif masyarakat kita, hilang begitu saja, tanpa pernah diketahui generasi saat ini. Terlalu panjang jika diurai satu-satu.
Kembali lagi ke Mazdon, 6 tahun berlalu.
Sore itu senja. Jalan Urip Sumoharjo berdebu. Vario Biru distandar miring. Mazdon duduk di meja kayu bundar. Lelah di wajahnya masih sama. Kerutan bertambah sedikit.
Saya tanya, kok sudah jarang nulis berita Seni Budaya?
Mazdon diam. Duduknya gelisah. Memorinya kembali ke 6 tahun silam. Tentang sebuah cita-cita.
“Iklim media sekarang, kalau gak ikut arus, habis lah kita,” jawab Mazdon.
Untukmu Mazdon: Kembalilah, kembalilah…!
**
Penulis : Didik Setia Budi
Editor : Sari Kusumaning Tias







