SUMENEP, diluartv.id- Kios semi permanen itu buka 24 jam. Lokasinya di pinggiran Kota Sumenep. Di depan, berjaga seorang pria. Di bagian dalam, rekannya sigap layani pembeli. Mayoritas yang datang adalah kalangan muda. Lama transaksi paling 5 menit. Setelahnya mereka keluar membawa bungkusan plastik hitam. Saat ditenteng, bunyi gemerincing botol. Itu miras.
Bergeser sedikit ke wilayah barat, lokasinya masih berdekatan. Botol-botol tampil lebih vulgar. Disini, kalangan muda datang jelang dini hari. Sebuah Hall penuh pengunjung. Apalagi akhir pekan. Meja-meja tamu penuh botol. Mereka larut dalam hentakan musik. Lampu warna-warni berputar, dalam ruangan remang.
Agak ke tengah kota lebih ironis. Sebuah kios berdiri depan Ponpes. Aktivitasnya sama, menjual miras. Lebih lengkap lagi, disini juga menjual snack seperti kacang dan keripik asin. Katanya untuk tambur bagi pemabuk.
Beda lagi dengan yang satu ini. Lokasinya di kawasan Pasar Sore Sumenep. Ini adalah kios rujukan bagi pemabuk low budget. Disini tersaji miras harga miring. Tuak, Arak, dan sejenisnya. Mereka yang datang, punya prinsip: yang penting mabuk, minum apapun jadi. Tapi soal ini masih prediksi. Mungkin lho ya.
Ironis. Dalam 5 tahun terakhir, jumlah toko dan kios penjual miras di Sumenep terus bertambah. Alkohol mudah dijumpai. Rumah hiburan malam bebas beroperasi. Masyarakat sudah biasa melihat kalangan muda mabuk, pulang dini hari, ngakak sepanjang jalan, blayer-blayer di permukiman. Di titik ini, miras mulai jadi ancaman. Nilai dan norma masyarakat terusik. Karena benar, miras berpotensi ganggu kamtibmas, juga memicu kriminalitas. Penyakit masyarakat ini harus ditolong dan disembuhkan.
Kalau miras meluas kita bisa apa? Saya ditanya teman Santri Pondok Pesantren Tertua di Sumenep. Dia nampak gusar dengan peredaran alkohol yang merajalela.
Saya jawab, kita harus ingatkan para pihak yang berkewajiban untuk mengingatkan. Jangan-jangan mereka lupa. Contohnya kepolisian, TNI, Satpol PP, termasuk Pemkab Sumenep. Mereka harus kompak menegakkan Perda. Sumenep kan punya aturan, terapkan secara tegas.
Santri itu mengernyitkan dahi. Wajahnya belum puas.
Dari dulu sering diingatkan dan dirazia, kok miras makin meluas? Katanya lagi.
Kalau masih bandel, ya saatnya Tokoh Agama turun tangan. Di Sumenep kan ada ribuan Santri, Ustadz, Habib, dan Kyai. Miras meluas, masa gak panas..?
***
Penulis : Didik Setia Budi
Editor : Aria Bhaskara Yudha







