SUMENEP, diluartv.id- Sosoknya misterius. Bukan satu orang, tapi ada beberapa. Sepak terjangnya semua tahu. Jaringannya mengakar. Sistemnya kuat, solid. Karena misterius, ya jarang muncul di publik. Namanya dikenal, Kontraktor Setengah Dewa. Penguasa Mega Proyek apapun di Sumenep.
Sejak menjadi wartawan televisi di tahun 2009 silam, saya belum pernah mengenal sosok ini. Si Kontraktor Setengah Dewa belum menjadi Dewa. Dia masih orang biasa. Tapi berkat kemampuan membangun jaringan, akhirnya jadi yang utama.
Sebagai Kabupaten yang masih membangun, tentu Sumenep jadi salah satu daerah dengan jumlah pekerjaan fisik terbesar di Jawa Timur. Jalan, jembatan, gedung sekolah, gedung pemerintah, infrastruktur pertanian, dan masih banyak lain.
Istilahnya, Sumenep adalah Surganya Proyek. Daerah kecil ini memang sepi hiruk pikuk. Tapi sebaliknya, disini ramai anggaran. Ratusan Miliar..!
Untuk mendapat porsi besar pekerjaan, tentu bukan hal mudah. Rumus dimana pun tetap sama. Politik dan kekuatan finansial dua hal yang berjalan seiring. Uang adalah politik, politik adalah uang. Si Kontraktor Setengah Dewa mengerti betul prinsip itu. Jargon simsiosis mutualisme lalu diterapkan. Demi pekerjaan.
Menjadi Kontraktor dengan jumlah pekerjaan besar sarat resiko. Dia harus menjadi seorang organisatoris. Ploting sub pekerjaan harus dikaji sedetil mungkin. Sebuah paket, harus dipecah-pecah. Proyek diumumkan, pemenang ditunjuk. Disini dibutuhkan banyak bendera. Untuk menghindari curiga. Tapi muaranya sama, untung kembali ke tangan sang Dewa. Dihimpun dalam karung besar.
‐——-
Jadi Kontraktor Setengah Dewa harus loyal. Dompetnya harus tebal, rekeningnya ready setiap saat. Dia harus tahu diri kapan dibutuhkan. Sekali berbuat salah, benderanya terancam tak berkibar. Hari-harinya bergelimang uang. Tapi tidurnya tak nyenyak. Nomer telepon harus gonta ganti. Itu pasti.
Sebenarnya bukan kali ini saja, saya mengenal Kontraktor Setengah Dewa. Di beberapa wilayah tugas, levelnya malah Kontraktor FULL Dewa. Dan kami biasa ngopi dan diskusi. Dari mereka, saya tahu teori kerjanya. Titik lemahnya. Dan seberapa kuat benderanya berkibar.
Kenapa tiba-tiba menulis Kontraktor Setengah Dewa?
(*)
Penulis : Didik Setia Budi
Editor : Sari Kusumaning Tias







