SUMENEP, diluartv.id- Ada masalah, kalau saya membeli rokok tanpa pita cukai, Durno..? Apa urusannya. Saya-saya yang beli, uang-uang saya, mau ada atau tidak pita cukai bukan urusan. Semua batang rokok, apapun mereknya sama. Ada kandungan nikotin, tar dan aroma saus. Soal rasa? Ah, itu sugesti. Bagi saya, sama saja.
Kan melanggar aturan? Eits, jangan ceramah hukum. Tunggu dulu, jangan katanya-katanya. Nanti saya jelaskan.
Saya keras dan teguh memegang prinsip rokok bukan tanpa sebab. Harap dicatat juga, saya menulis bukan karena di-endorse perusahaan tertentu. Ini murni faktor hati. Ada perjalanan tembakau disitu. Ada rangkaian panjang. Ini kisah tentang keadilan Petani Tembakau Madura.
Di tahun 2009, saya biasa keluar masuk gudang pembelian tembakau di Sumenep. Belum seramai sekarang, dulu jumlah gudang masih satu dua. Hasil panen petani antri masuk. Truk dan pick up mengular di jalan raya. Setelah dinilai sesuai spesifikasi, armada diizinkan masuk pabrik. Ketegangan petani belum selesai. Mereka masih harus menunggu petugas tester pabrik. Tembakau dipegang, diraba dan dicium. Barulah menakar harga.
Bagaimana harga jualnya? Mayoritas dibeli dengan harga murah.
Masa gak ada yang mahal? Ya ada, tapi dari 50an truk, yang dibeli mahal cuma satu truk.
Praktik demikian sudah berlangsung lama. Namanya hukum ekonomi, monopoli rantai pasok daun tembakau, memaksa petani kita melepas jerih payahnya murah. Ini adalah sistem, hukum kapital.
Disaat yang sama, petani tembakau Sumenep belum mempunyai pandangan maju akan industri tembakau. Mereka belum melek inovasi, dan berani bersaing. Belum lagi, saat itu mesin produksi rokok juga langka. Jadi mau tidak mau, ya menjual tembakau ke pabrikan besar.
Kondisi berbeda muncul sekitar tahun 2020. Pengusaha tembakau lokal berani bersaing dengan pengusaha nasional. Gudang-gudang kecil di pelosok Sumenep dan Madura mulai memproduksi merek rokok sendiri. Hasilnya, laku keras. Peta ekonomi tembakau berubah. Rokok lokal berjaya. Tidak ada skema pabrikan besar lagi disini. Tapi berubah: dari petani-gudang lokal-pengusaha lokal. Monopoli itu berakhir. Ratusan merek rokok lokal bermunculan. Saya mencatatnya sebagai momen kebangkitan besar ekonomi tembakau kita.
Apakah para pengusaha besar khawatir? Pasti! Mereka mendapat saingan. Gurita bisnis terganggu. Disatu sisi, rokok karya petani Madura, murah dan terjangkau. Rokok ini laris manis. Tak terbendung. Dikirim kemana mana. Jadi idola.
Sayangnya, Negara belum berpihak pada petani kita. Kebangkitan ini diamputasi. Razia, larangan beli, gencar dilakukan. Rokok Durno dipandang musuh APBN. Pemerintah mendadak malas untuk mencari solusi bagi petani. Misal percepatan Kawasan Ekonomi Khusus( KEK) tembakau Madura, dan penerapan cukai murah.
Kalau ketemu saya, jangan tanya lagi, alasan merokok Durno. Trus kenapa..?!(*)
Penulis : Didik Setia Budi
Editor : Sari Kusumaning Tias







