Penjahat Bernama Prabowo

Avatar of Redaksi

- Penulis

Senin, 15 Juni 2026 - 16:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fauzi As. (Diluartv Photo)

Fauzi As. (Diluartv Photo)

SUMENEP, diluartv.id- Membaca judul tulisan ini, mungkin sebagian orang akan langsung marah.
Sebagian lagi mungkin tersenyum karena merasa menemukan pembenaran atas kebenciannya.

Tetapi justru di situlah persoalannya.
Hari ini kita hidup di zaman ketika orang lebih cepat marah daripada membaca.

Lebih cepat membenci daripada memahami.

Lebih cepat menyimpulkan daripada mencari data.

Bangsa ini tidak sedang kekurangan orang yang pandai berteriak. Bangsa ini sedang kekurangan orang yang mau berpikir jernih.

Saya termasuk orang yang sering mengkritik pemerintah. Saya menulis tentang korupsi. Saya mengkritik pejabat yang menyalahgunakan jabatan. Saya menyoroti proyek yang merugikan rakyat. Saya mempertanyakan kebijakan yang menurut saya tidak berpihak kepada masyarakat kecil.

Tetapi kritik tidak boleh membuat kita kehilangan akal sehat.

Kritik adalah “Vitamin” demokrasi. Kebencian adalah “Racun” demokrasi.

Dua hal itu sering terlihat mirip, padahal sangat berbeda.

Hari ini saya melihat gejala yang cukup berbahaya. Banyak pihak berusaha menggiring opini seolah-olah seluruh masalah bangsa ini berasal dari satu orang bernama Prabowo Subianto.

Seolah semua korupsi dilakukan Presiden.
Seolah semua pencurian uang rakyat dilakukan Presiden.Seolah semua pejabat nakal mendapat perintah langsung dari Presiden.

Pertanyaannya sederhana.
Benarkah demikian?
Jika Presiden ingin melindungi koruptor, mengapa banyak pejabat yang ditangkap?

Jika Presiden ingin melindungi mafia, mengapa banyak pengusaha besar yang dijadikan tersangka?

Jika Presiden ingin melindungi para pemburu rente, mengapa kasus-kasus besar justru terus dibongkar?

READ  RSUD Sumenep Jadi Pusat Rujukan Penyakit Katastropik di Madura

Tentu bukan berarti semua sudah baik-baik saja.
Tidak!

Masih banyak masalah yang harus diselesaikan.
Korupsi masih merajalela. Penyalahgunaan kekuasaan masih terjadi. Mental maling masih berkeliaran di berbagai lembaga negara.

Program yang seharusnya membantu rakyat masih berpotensi dijadikan ladang bancakan oleh oknum-oknum yang rakus.

Kasus dugaan korupsi dalam Program Makan Bergizi Gratis menjadi contoh yang sangat menyakitkan.

Ketika rakyat berharap anak-anak mendapatkan makanan yang layak, justru muncul dugaan bahwa ada pihak-pihak yang sibuk menghitung keuntungan pribadi.

Ketika masyarakat berharap program negara menjadi jalan menuju masa depan yang lebih baik, justru ada oknum yang diduga menjadikannya sebagai mesin uang.

Publik tentu masih ingat bagaimana tersangka Sony Sonjaya mengaku telah menyerahkan puluhan nama kepada penyidik.

Jika informasi itu benar, maka siapapun yang terlibat harus diperiksa.
Siapapun.
Tidak peduli pejabat.
Tidak peduli anggota DPR.
Tidak peduli pengusaha.
Tidak peduli tokoh besar.
Hukum tidak boleh mengenal kasta.

Tetapi di sisi lain, kita juga harus berhati-hati agar kemarahan terhadap oknum tidak berubah menjadi kebencian terhadap negara.

Inilah jebakan yang sering tidak kita sadari.
Ada pihak yang ingin rakyat marah kepada koruptor.
Itu wajar.

Tetapi ada juga aktor yang ingin rakyat marah kepada negaranya sendiri.
Ini yang berbahaya.

Dalam dunia militer dikenal berbagai strategi tipudaya. Ada yang bersuara dari barat lalu menyerang dari timur.

READ  LBH Achmad Madani Putra Protes Jemput Paksa H. Latib

Ada yang menyalakan api kecil agar muncul kebakaran besar. Ada yang menciptakan konflik kecil agar lahir perpecahan yang lebih luas.

Dan hari ini pola yang sama sering muncul di ruang digital.

Rakyat diadu dengan rakyat.
Ulama diadu dengan ulama.
TNI diadu dengan Polri.
Lembaga negara diadu dengan lembaga negara.
Pendukung pemerintah diadu dengan pengkritik pemerintah.

Padahal yang tertawa justru mereka yang selama ini menikmati kekacauan.
Karena bangsa yang terpecah akan lebih mudah dikuasai daripada bangsa yang bersatu.

Saya teringat pernyataan Achsanul Qosasi dalam rapat paripurna DPR pada 17 Juni 2013, ketika membahas kenaikan harga BBM.

Saat itu ia mengatakan bahwa “Tidak ada satu Presiden pun yang ingin Menyengsarakan Rakyatnya.

Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung pelajaran penting. Kita boleh tidak setuju dengan kebijakan Presiden. Kita boleh mengkritik keputusan pemerintah. Kita juga boleh menolak program yang tidak berpihak kepada rakyat.

Tetapi kita juga harus memahami bahwa tidak semua kebijakan lahir dari niat jahat.
Sering kali pemerintah menghadapi pilihan yang sama-sama sulit.

Pilihan yang jika diambil akan dimarahi.
Tidak diambil juga akan dimarahi.

Dalam kasus BBM saat itu, Achsanul menyampaikan data bahwa sebagian besar subsidi justru dinikmati kelompok yang tidak berhak dan sebagian lagi bocor melalui penyelundupan.

Artinya, persoalannya tidak selalu sesederhana yang terlihat di media sosial.
Karena itu bangsa ini membutuhkan kritik yang berbasis data, bukan kebencian yang berbasis prasangka.

READ  SMSI Sumenep Pilih Absen Undangan Kapolresta Sumenep

Kita membutuhkan keberanian untuk melawan korupsi, bukan keberanian untuk menghancurkan persatuan.

Kita membutuhkan rakyat yang kritis, bukan rakyat yang mudah diprovokasi.
Kita membutuhkan pengawasan terhadap pemerintah, bukan permusuhan terhadap negara.

Saya percaya NKRI ini masih memiliki banyak masalah.

Tetapi saya juga percaya bangsa ini masih memiliki harapan.
Harapan itu ada pada rakyat yang berani mengkritik tanpa membenci.

Rakyat yang berani melawan koruptor tanpa memusuhi negaranya sendiri.

Rakyat yang mampu membedakan antara pejabat nakal dan institusi negara.

Antara pengkhianat jabatan dan cita-cita kebangsaan.

Karena pada akhirnya, koruptor bisa ditangkap.
Pejabat bisa diganti. Menteri bisa dicopot.
Anggota DPR bisa kalah pemilu.
Bahkan Presiden pun bisa berganti.
Tetapi Indonesia harus tetap berdiri.

Maka mari kita jaga akal sehat.
Lawan korupsi sampai ke akarnya.
Kritik pemerintah jika keliru.
Dukung jika benar.
Awasi kekuasaan tanpa henti.

Namun jangan pernah membiarkan siapa pun memecah belah bangsa ini. Sebab ketika rakyat saling membenci, ketika sesama anak bangsa saling curiga, ketika kita sibuk bertengkar satu sama lain, para perampok negeri justru bekerja dengan tenang.

Dan itu adalah kemenangan terbesar mereka.
Bukan karena mereka terlalu kuat. Tetapi karena kita terlalu mudah dipecah belah. Mari Jaga Rumah kita Bernama Indonesia Raya ini.(red)

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel diluartv.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

DPC PDIP Sumenep Gelar Refleksi 30 Tahun Peristiwa Kuda Tuli
Mazdon, Kembalilah
Jalan Sunyi Didik Diluar TV
Pria Asing, Melamar Jadi Cawabup
Ditanya Hasan, Tentang Londo Ireng
Andai Saya Bupati
Kisah Jurnalis TV Daerah
Merespons Diksi “Londo Ireng”, IJTI Ingatkan Pentingnya Menjaga Kemerdekaan Pers dan Demokrasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 02:53 WIB

DPC PDIP Sumenep Gelar Refleksi 30 Tahun Peristiwa Kuda Tuli

Senin, 27 Juli 2026 - 19:04 WIB

Mazdon, Kembalilah

Senin, 27 Juli 2026 - 15:42 WIB

Jalan Sunyi Didik Diluar TV

Minggu, 26 Juli 2026 - 22:56 WIB

Pria Asing, Melamar Jadi Cawabup

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:55 WIB

Ditanya Hasan, Tentang Londo Ireng

Berita Terbaru

Pengurus DPC PDIP Sumenep, Jawa Timur, berkumpul dalam Refleksi 30 Tahun Peristiwa Kuda Tuli, Senin, 27 Juli 2026 malam. (Diluartv Photo)

Berita

DPC PDIP Sumenep Gelar Refleksi 30 Tahun Peristiwa Kuda Tuli

Selasa, 28 Jul 2026 - 02:53 WIB

Penulis Didik Setia Budi, beberapa hari lalu, disebut Presiden Londo Ireng. (Diluartv Photo)

Berita

Mazdon, Kembalilah

Senin, 27 Jul 2026 - 19:04 WIB

Farin (kanan) Jurnalis Wanita Sumenep yang disebut Mazdon dalam tulisannya. (Diluartv Photo)

Berita

Jalan Sunyi Didik Diluar TV

Senin, 27 Jul 2026 - 15:42 WIB

Didik Setia Budi, Wartawan juga Penulis Cerpen. (Diluartv Photo)

Berita

Pria Asing, Melamar Jadi Cawabup

Minggu, 26 Jul 2026 - 22:56 WIB

Penulis Didik Setia Budi. Punya sepeda jengki hijau. (Diluartv Photo)

Berita

Ditanya Hasan, Tentang Londo Ireng

Minggu, 26 Jul 2026 - 20:55 WIB