Penulis: Mazdon | Pemred dimadura.id
SUMENEP, diluartv.id– Saya mengenal Didik Setia Budi bukan dari kolomnya. Saya mengenalnya dari keseharian, hobi burung dan merawat tanaman, liputan langsung, dan jalan sunyi yang dipilihnya.
Didik, begitu saya biasa menyapanya, dulu sempat sekantor denganku, juga dengan Normanita pemilik Seputar Madura, dan Ahmad Ainol Horri pemred Jejak.co, saat awal saya terjun di dunia jurnalistik sebagai wartawan. Lokasinya tepat di utara kantor Pemkab Sumenep.
Pria yang lahir di Kalianget Solo, yang saya kenal ini bukan wartawan yang lahir dari ruang redaksi media besar. Walau benar, basis kewartawanannya dulu memang ditempa sebagai kontributor NET TV, kemudian melanjutkan kiprah sebagai kontributor BeritaSatu dan BTV.
Akhir pekan ini, tumben ia menulis dua kolom setengah serius, dengan judul: “Menjadi Wartawan itu Sulit, Sulit Sekali” dan “Kisah Jurnalis TV Daerah”.
Saya membaca seorang Didik Diluartv dalam dua kolom itu seperti sedang bercerita tentang dirinya sendiri. Saya kira ia tidak sedang menulis tentang profesi wartawan.
Pada kolom pertama dan kedua, aku menangkap pesan seolah dunia televisi adalah sekolah yang keras. Wartawan daerah belajar bahwa tidak semua peristiwa layak tayang, tidak semua liputan dikirim menjadi berita, dan tidak setiap kerja keras berbanding lurus dengan penghargaan yang diterima.
Saya percaya setiap kalimat “sulit” yang ditulis Didik bukan hasil membaca buku teori jurnalistik. Ia lahir dari perjalanan panjang: mengejar narasumber, menunggu keputusan redaksi televisi, mendirikan media, menjual media, memulai lagi dari nol, lalu kembali membangun media.
Itu pengalaman yang tidak semua wartawan punya. Tetapi di titik ini saya merasa ada sesuatu yang belum selesai. Didik menulis bahwa menjadi wartawan itu sulit.
Saya setuju. Namun saya ingin menambahkan satu kalimat. Bahwa menjadi wartawan memang sulit. Tetapi yang jauh lebih sulit adalah tetap menjadi wartawan ketika industri medianya sendiri sedang kehilangan pijakan.
Hari ini wartawan tidak hanya bersaing dengan sesama wartawan. Mereka bersaing dengan algoritma, dengan kreator konten, dan potongan-potongan video tiga puluh detik yang sering kali lebih dipercaya daripada laporan yang dikerjakan berhari-hari.
Media memproduksi berita. Platform memanen perhatian. Dan perhatian, pada akhirnya, berubah menjadi uang. Ironinya, uang itu tidak selalu kembali kepada mereka yang bekerja menghasilkan informasi.
Tulisan Didik juga mengingatkan saya pada satu ironi lain. Masyarakat masih membutuhkan wartawan. Tetapi semakin sedikit orang yang yakin wartawan bisa hidup layak dari pekerjaannya.
Di situlah persoalannya. Bukan semata-mata soal idealisme. Melainkan soal keberlangsungan. Sebab pers yang sehat tidak hanya membutuhkan wartawan yang jujur.
Ia juga membutuhkan perusahaan media yang cukup kuat untuk membayar kejujuran itu. Saya berharap, suatu hari nanti, ia menulis bab berikutnya. Bukan tentang betapa sulitnya menjadi wartawan. Melainkan mengapa industri media kita, membuat kesulitan itu seolah menjadi keadaan yang harus diterima.
Karena pada akhirnya, kolom yang baik bukan yang mengajak pembaca bersimpati kepada penulisnya. Kolom yang baik membuat kita bertanya: mengapa keadaan ini dibiarkan berlangsung begitu lama?
Dan, barangkali karena itulah, Didik memilih keluar dari zona nyaman.
Pada 2019, ia menjalankan media online Seputar Jatim. Bersama Farin. Langkah yang, menurut saya, hanya diambil oleh dua jenis orang: mereka yang terlalu optimistis atau mereka yang terlalu mencintai profesinya.
Saya cenderung percaya Didik termasuk kelompok kedua. Tetapi idealisme mempunyai lawan yang tidak pernah bisa diajak bernegosiasi: biaya hidup.
Di industri media lokal, idealisme sering kali kalah oleh arus kas. Tidak semua media tumbang karena kehilangan pembaca. Sebagian justru berhenti karena tidak sanggup lagi membayar ongkos bertahan.
Seputar Jatim akhirnya dilepas.
Sesudah itu Didik sempat mengelola Madura Channel. Tidak lama. Lalu ia memilih membangun rumahnya sendiri melalui DiluarTV.
Menariknya, nama DiluarTV tidak lahir dari ruang rapat perusahaan. Ia lebih dulu hidup sebagai identitas di media sosial. Pada awalnya, akun TikTok itu menggunakan nama Fauzi Diluar TV, yang digunakan dalam konteks komunikasi politik pada masa kampanye Achmad Fauzi Wongsojudo.
Belakangan, identitas itu berubah menjadi DiluarTV. Kini nama yang sama berkembang menjadi perusahaan media dengan portal diluartv.id yang masih relatif baru.
Saya tidak tahu apa yang menjadi alasan perubahan identitas itu. Dan saya tidak merasa perlu menebaknya. Yang lebih penting adalah, kenyataan bahwa, Didik akhirnya memilih membangun mereknya sendiri. Dalam dunia media, keputusan itu sering kali jauh lebih berat daripada sekadar mengganti nama.
**
Penulis : Mazdon
Editor : Didik Setia Budi







