Kerupuk Pak Samuji, Kisah Merah Putih

Avatar of Redaksi

- Penulis

Jumat, 31 Juli 2026 - 01:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis Didik Setia Budi, lahir di Kalianget. (Diluartv Photo)

Penulis Didik Setia Budi, lahir di Kalianget. (Diluartv Photo)

SUMENEP, diluartv.id- Hari ini kita di penghujung Juli. Besok, masuk Bulan Kemerdekaan. Saya jadi teringat, kisah seorang tua, namanya Pak Samuji. Kakek tiga cucu ini sangat sederhana. Bekerja sederhana, sebagai penjual kerupuk di warung-warung.

Dalam sebuah sore, minggu pertama Agustus. Entah di tahun 2015 atau 2016, saya mendapat pelajaran berharga dari beliau. Saat itu saya sedang duduk di warkop langganan. Pak Samuji menyapa saya dengan satu kalimat pendek. Mas Didik, sudah pasang Bendera Agustusan? Seketika saya berhenti mengunyah gorengan. Saya menatap Pak Samuji. Wajahnya menunggu. Lalu saya jawab: belum, Pak, saya pasangnya mendekati 17 Agustus.

Tak lama, Pak Samuji berlalu. Sepeda tuanya kembali dikayuh. Menjauh, mungkin mengirim kerupuk ke warung lain.

READ  IJTI Pantura Raya Gelar Talkshow “Beyond Journalism”, Dorong Pelajar Melek Media

——

Dua hari berselang, Pak Samuji kembali datang ke warung yang sama. Dia menatap saya sekilas. Berbincang sejenak ke pemilik warung. Mengganti kerupuk melempem dengan yang baru. Tapi kali ini dia tak langsung beranjak. Sepeda tuanya dipindahkan ke bawah pohon. Dia menuju ke dekat bangku saya.

“Ini saya beli bendera Merah Putih baru mas Didik. Semua habis 70 puluh ribu,” kata Pak Samuji menunjukkan bungkusan.

Saya lihat, isinya kain bendera Merah Putih, dan dua umbul-umbul.

“Ini mas, kalau mau. Saya di rumah masih banyak. Tiap tahun saya pasti beli baru,” lanjutnya.

Enggak, Pak. Makasih. Jawab saya.

Pak Samuji memesan kopi. Rupanya dia telah selesai mengirim kerupuk. Mungkin ingin istirahat sejenak. Mulailah Pak Samuji berkisah panjang:

READ  DPC PDIP Sumenep Gelar Refleksi 30 Tahun Peristiwa Kuda Tuli

Tiap Agustus saya sedih sekaligus bersyukur. Sedih ingat perjuangan kemerdekaan yang tak mudah. Bersyukur atas nikmat kemerdekaan yang bertambah tiap tahunnya. Saat keliling bawa kerupuk, saya senang lihat halaman perkantoran di Sumenep bernuansa merah putih. Bendera dikibarkan tinggi. Gapura warna warni. Dinding penuh dekorasi. Tapi, tidak semua rumah ingat Merah Putih. Ada sebagian warga yang kayak biasa saja. Mereka menganggap Agustus seperti bulan lainnya.

Saya terus menyimak Pak Samuji. Ini ujung kisah yang bikin saya terhening.

Saya ini sudah tua. Malu menuntut banyak ke Negara. Bulan Agustus sudah menjadi penghormatan besar saya. Di semua pelosok bahkan melakukannya. Tahu lomba makan kerupuk kan? Nah itu. Itu yang bikin saya malu, jika tidak menghormati bulan kemerdekaan. Saya jadi mikir, kerupuk, jualan saya ini, punya andil meningkatkan kecintaan pada Negara. Itu alasan saya bangga ke diri sendiri. Tidak minder walaupun saya penjual kerupuk. Karena apa? Karena Negara memandang saya besar. Saya bangga jadi penjual kerupuk. Saya cinta Indonesia, karena Indonesia juga mencintai saya.

READ  Polresta Sumenep Gelar Sidang BP4R, Wujudkan Kesiapan Personel Menuju Kehidupan Berkeluarga

Pak Samuji berhenti cerita. Sore itu adalah terakhir kali saya bertemu dengannya. Hari-hari setelahnya, saya mendengar Pak Samuji telah kembali ke kampung halamannya di Jawa Tengah.

Bagi saya, Agustus menjadi memori khusus Pak Samuji. Saya harus kibarkan Merah Putih terbaik. Lalu berbaur dalam kemeriahan lomba Agustusan: makan kerupuk.(*)

Facebook Comments Box

Penulis : Didik Setia Budi

Editor : Sari Kusumaning Tias

Follow WhatsApp Channel diluartv.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Operasi Patuh Semeru 2026, Polresta Sumenep Perkuat Kedisiplinan Personel
Jalan Sehat Politik DPRD Sumenep Diikuti Ribuan Warga, Perkuat Sinergi untuk Pembangunan
DPRD dan Pemkab Sumenep Sepakati Raperda Dana Cadangan Pilkada 2029 Sebesar Rp75 Miliar
DPRD dan Pemkab Sumenep Sepakati Raperda APBD 2027 Jadi Perda
Bukan Musik Jalanan! Cara Sumenep Sulap Musik Tongtong Jadi Event Nasional
Warga Pamolokan Ditemukan Meninggal Dunia di Rumah, Polisi Lakukan Penyelidikan
DPO Kasus Penipuan Rp200 Juta Ditangkap, Kuasa Hukum Puji Kinerja Polresta Sumenep
Gelorakan Sepakbola SD, Cara Bupati Sumenep Gali Talenta Muda

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:01 WIB

Operasi Patuh Semeru 2026, Polresta Sumenep Perkuat Kedisiplinan Personel

Senin, 26 Oktober 2026 - 21:23 WIB

Jalan Sehat Politik DPRD Sumenep Diikuti Ribuan Warga, Perkuat Sinergi untuk Pembangunan

Senin, 26 Oktober 2026 - 21:13 WIB

DPRD dan Pemkab Sumenep Sepakati Raperda Dana Cadangan Pilkada 2029 Sebesar Rp75 Miliar

Senin, 26 Oktober 2026 - 21:05 WIB

DPRD dan Pemkab Sumenep Sepakati Raperda APBD 2027 Jadi Perda

Selasa, 20 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Bukan Musik Jalanan! Cara Sumenep Sulap Musik Tongtong Jadi Event Nasional

Berita Terbaru

DPRD dan Pemkab Sumenep menyepakati Raperda APBD Tahun Anggaran 2027 menjadi Perda dalam Rapat Paripurna DPRD, yang dipimpin Ketua DPRD H. Zainal Arifin, Kamis (22/10/2026) lalu.

Nasional

DPRD dan Pemkab Sumenep Sepakati Raperda APBD 2027 Jadi Perda

Senin, 26 Okt 2026 - 21:05 WIB

Suasana khidmat pelaksanaan Apel Hari Santri Nasional 2026 di Halaman Kantor Bupati Sumenep, di mana Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo bersama jajaran Forkopimda memberikan amanat di atas panggung utama.

Pemerintahan

Ini Cara Pemkab Sumenep Dorong Santri Merambah Dunia Kewirausahaan

Jumat, 23 Okt 2026 - 22:58 WIB