Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Avatar of Redaksi

- Penulis

Senin, 3 Agustus 2026 - 21:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengamat Kebijakan Publik Fauzi As. (Diluartv Photo)

Pengamat Kebijakan Publik Fauzi As. (Diluartv Photo)

Oleh: Fauzi As

SUMENEP, diluartv.id- Bupati kembali melempar wacana perubahan nama Kabupaten Sumenep menjadi Kabupaten Kepulauan Sumenep. Sekilas terdengar visioner. Lebih representatif. Lebih menggambarkan identitas daerah yang memiliki lebih dari seratus pulau.

Namun dalam politik, tidak ada ide yang lahir tanpa kepentingan. Pertanyaannya sederhana: apa sebenarnya tujuan perubahan nama itu?

Apakah sekadar agar pemerintah pusat melihat Sumenep sebagai daerah kepulauan sehingga mendapatkan perhatian, anggaran, bahkan badan otorita khusus?

Ataukah ada agenda lain yang lebih besar?

Masyarakat tentu berhak bertanya. Sebab mengubah nama kabupaten bukan perkara mengganti papan nama kantor. Sumenep tagline saja terus berubah? Sumenep Sumekar, Sumenep Super Mantap, Sumenep Kota Keris, dan entah apa lagi. Jangan sampai perubahan nama kota hanya ikut nama Bupatinya yang juga berubah.

Perubahan itu harus memiliki manfaat nyata yang dapat dirasakan warga.

READ  Warga Pulau Masakambing Siap Sukseskan Lomba Fotografi Kakatua Abbotti

Jika tujuan utamanya hanya agar anggaran bertambah, maka pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: siapa yang menjamin tambahan anggaran akan berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat kepulauan?

Sejarah menunjukkan bahwa besarnya APBD tidak selalu identik dengan baiknya pelayanan publik. Yang menentukan bukan hanya jumlah uangnya, tetapi tata kelola, pengawasan, dan keberpihakan terhadap rakyat.

Yang lebih menarik, gagasan ini ternyata bukan ide baru.

Pada tahun 2007, DPRD Kabupaten Sumenep pernah mengusulkan perubahan nama menjadi Kabupaten Kepulauan Sumenep. Dasarnya cukup jelas. Saat itu Komisi B DPRD melakukan studi banding ke Kepulauan Riau untuk mempelajari batas wilayah laut, pengelolaan pulau-pulau kecil, hingga potensi dampaknya terhadap pengakuan wilayah dan perhitungan Dana Alokasi Umum (DAU).

Artinya, sejak awal gagasan tersebut memang dikaitkan dengan dua isu besar: pengakuan batas wilayah laut dan potensi konsekuensi fiskal.

READ  Bupati Fauzi Usulkan Perubahan Nama Kabupaten Menjadi Sumenep Kepulauan

Dari sisi itu, usulan tersebut memiliki landasan yang dapat diperdebatkan secara akademis dan hukum.

Tetapi konteks hari ini berbeda.
Yang perlu dijelaskan kepada publik bukan sekadar alasan historisnya, melainkan apa manfaat konkret yang akan diterima masyarakat kepulauan saat ini?

Apakah pelayanan kesehatan akan lebih mudah?
Apakah pendidikan di pulau-pulau kecil akan lebih baik?

Apakah infrastruktur pelabuhan akan lebih layak?

Apakah listrik dan air bersih akan lebih merata?

Atau justru yang bertambah hanyalah kop surat pemerintahan dan papan nama kantor?

Ada pula pertanyaan yang tidak kalah penting.
Apakah perubahan nama ini nantinya justru memperkuat status Kabupaten Sumenep sebagai satu kesatuan wilayah sehingga semakin sulit untuk dilakukan pemekaran daerah apabila suatu saat dinilai diperlukan?

READ  Kadang, Kita Harus Belajar Dari Juna

Pertanyaan ini layak dijawab secara terbuka. Bukan karena pemekaran selalu menjadi solusi, tetapi karena perubahan identitas administratif sering kali memiliki implikasi politik dan tata kelola pemerintahan yang panjang.

Kabupaten Sumenep merupakan kabupaten terluas di Pulau Madura dengan luas sekitar 1.857,53 km², mencakup wilayah daratan sekaligus gugusan pulau-pulau yang tersebar.

Luas wilayah dan karakter geografisnya memang menghadirkan tantangan pelayanan publik yang berbeda dibanding daerah lain.

Karena itu, jika benar pemerintah ingin memperjuangkan kepentingan wilayah kepulauan, masyarakat tentu akan mendukung.

Namun dukungan tersebut harus dibangun di atas transparansi, kajian yang terbuka, dan argumentasi yang dapat diuji.

Rakyat tidak membutuhkan kosmetik birokrasi.
Rakyat membutuhkan perubahan yang benar-benar terasa.

Sebab sejarah mengajarkan satu hal.
Mengganti nama daerah jauh lebih mudah daripada mengubah nasib masyarakatnya.

Facebook Comments Box

Penulis : Didik Setia Budi

Editor : Sari Kusumaning Tias

Follow WhatsApp Channel diluartv.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rokok Saya Durno, Trus Kenapa?
Kadang, Kita Harus Belajar Dari Juna
Kontraktor Setengah Dewa
Bahaya Setengah Mabuk
IJTI Korda Surabaya Demo Protes Sebutan Londo Ireng Prabowo
Miras Meluas, Sumenep Bisa Apa?
Kerupuk Pak Samuji, Kisah Merah Putih
Bea Cukai dan Polri Gagalkan Ekspor 3,4 Ton Merkuri Cair Senilai Rp17,5 Miliar di Surabaya

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 21:09 WIB

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Minggu, 2 Agustus 2026 - 09:50 WIB

Rokok Saya Durno, Trus Kenapa?

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 23:10 WIB

Kadang, Kita Harus Belajar Dari Juna

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 19:17 WIB

Kontraktor Setengah Dewa

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 17:12 WIB

Bahaya Setengah Mabuk

Berita Terbaru

Pengamat Kebijakan Publik Fauzi As. (Diluartv Photo)

Uncategorized

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Senin, 3 Agu 2026 - 21:09 WIB

Penulis Didik Setia Budi, Pemred Diluar TV. (Diluartv Photo)

Berita

Rokok Saya Durno, Trus Kenapa?

Minggu, 2 Agu 2026 - 09:50 WIB

Juna lempar uang di halaman DPRD Sumenep, 27 Juni 2023 silam. (Diluartv Photo)

Berita

Kadang, Kita Harus Belajar Dari Juna

Sabtu, 1 Agu 2026 - 23:10 WIB

Penulis Didik Setia Budi. Punya sepeda jengki hijau. (Diluartv Photo)

Berita

Kontraktor Setengah Dewa

Sabtu, 1 Agu 2026 - 19:17 WIB

Penulis Didik Setia Budi, pemimpin redaksi Diluar TV. (Diluartv Photo)

Berita

Bahaya Setengah Mabuk

Sabtu, 1 Agu 2026 - 17:12 WIB