SUMENEP, diluartv.id- Mengawali catatan singkat ini, saya ingin berbagi pengalaman ketika masih menempuh pendidikan di Pondok Pesantren.
Ada satu ungkapan yang sering terdengar dari para santri: “Jangan berkata bohong”. Kalimat ini terdengar sederhana, tapi sesungguhnya sangat bermakna, terutama ketika diterapkan dalam dunia tulis-menulis.
Saya masih ingat ketika aktif menulis di sebuah majalah pondok, seorang senior pernah memberikan pesan penting: “Jangan berbohong ketika menulis”. Saya pun bertanya, apa maksudnya? Dalam konteks apa?
Jawabannya sederhana tapi dalam: “Tulislah berdasarkan data dan fakta. Jangan ditambah-tambah. Jika merah, tulislah merah”.
Lalu apa kaitannya dengan judul catatan ini, Kritik Bukan Benci?
Ketika saya menyampaikan kritik melalui tulisan atau berita, kadang dianggap sebagai bentuk kebencian. Hati saya sebenarnya tertawa mendengar tudingan seperti itu, apalagi ketika opini liar sengaja dihembuskan oleh para pembisik.
Sebagai warga yang mencintai Sumenep, saya tentu mendukung setiap kemajuannya. Tapi mendukung bukan berarti tutup mata terhadap hal-hal yang perlu disuarakan.
Kita tidak boleh hanya ingin menerima pujian namun sinis terhadap kritik. Dalam Islam pun, perbedaan pendapat adalah hal biasa. Banyak pandangan dalam fiqih yang menunjukkan betapa luasnya ruang berpikir kita.
Jangan jadi hamba kekuasaan yang ingin selalu dipuji, lalu dengan mudah memberi label “kebencian” kepada mereka yang menyampaikan kritik. Kritik itu bentuk cinta. Dan cinta sejati tak selalu manis, kadang ia harus tegas agar arah tetap benar. (red)













