SUMENEP, diluartv.id- Mari sejenak kita bayangkan, dua nelayan di ujung peta Indonesia menemukan drum mencurigakan. Bukan di darat, tapi di tengah laut yang jauh dari kata viral. Drum bukan berisi solar subsidi, bukan pula bantuan minyak goreng yang tak mampu nyebrang lautan, melainkan 35 kilogram sabu. Ya, ini sabu-sabu yang selalu saya sisipkan dalam setiap artikel tentang Madura. Nilainya? Puluhan miliar rupiah.
Nilai yang cukup untuk membeli sebuah perahu spek tinggi, cukup tuk beli rumah kanan dan kiri, atau buat tangga hidup yang lebih tinggi. Tapi mereka tidak tergoda. Mereka bukan pejabat, bukan juga politisi pemegang proyek. Mereka cuma nelayan, profesi yang saban hari berjuang di laut, melawan ombak dan harga solar yang terus naik. Dan ketika mereka menemukan harta haram, mereka tidak menelpon preman, tidak juga diam-diam buka lapak di pelabuhan, melainkan melapor.
Ya, melapor kata kerja yang semakin langka di republik ini, apa lagi yang dilaporkan barang bernilai puluhan miliar. Dan yang menerima laporan adalah Babinsa. Bukan influencer, bukan tenaga ahli dengan gaji tinggi, tapi tiga orang prajurit dari Koramil kecil di palau Masalembu.
Namanya Serka Yohanes, Serda Bambang, dan Koptu Yunus, ikut menyingsingkan lengan, menyatu dengan bau lumpur dan bekas air asin. Mereka, bersama dua nelayan, memeriksa drum dengan teliti. Di dalamnya? Paket-paket plastik penghancur generasi. Dan semua ini terjadi jauh dari kantor megah, jauh dari panggung pidato, jauh dari seremonial nasionalisme di media sosial.
Kita terbiasa melihat pejabat berdandan di layar kaca dengan jargon-jargon seperti “komitmen pemberantasan narkoba,” “penegakan hukum tak pandang bulu,” atau “NKRI harga mati.” Tapi begitu ada sabu, mereka justru sibuk berdebat soal siapa yang berwenang menyita barang bukti, atau siapa yang mau tampil di layar TV. Sementara itu, nelayan dan Babinsa di ujung republik, di pulau tengah laut yang bahkan sinyal ponsel pun malu-malu datang, diam-diam menjaga republik ini agar tak jadi negara kartel.
Katanya negara ini sedang darurat narkoba. Tapi yang berani pasang badan justru bukan institusi pusat yang gemar bikin gugus tugas. Yang bertindak cepat bukan pula para jenderal bintang empat, yang konferensi pers sambil pakai rompi keren. Yang menyelamatkan negeri justru orang-orang kecil dengan gaji kecil dan nyali besar.
Terimakasih kepada nelayan, Babinsa, yang memilih akal sehat, bukan akal bulus. Terima kasih kepada Dandim 0827 Sumenep, bahkan Pangdam V/Brawijaya, yang konon sibuk koordinasi lewat sambungan telepon, bukan karena ingin masuk media, tapi karena masih ada cinta pada tanah air dan tanah Madura.
Ini bukan soal laut dan sabu, ini soal integritas. Dan lucunya, integritas itu ditemukan di pinggir pantai, bukan di ruang rapat dalam gedung-gedung megah.
Hari ini, kita menyaksikan bahwa republik ini masih punya harga diri. Tapi maaf, yang menjaga harga diri itu bukan mereka yang duduk di jakarta, melainkan mereka yang berdiri di bawah matahari, di tengah lautan sepi.
Terakhir Kepada Mayjen Rudy Saladin “Pangdam V/ Brawijaya,” Babinsa tidak butuh tampil di TV, mereka juga tidak butuh dipuji, Tapi rakyat? Ingin melihat mereka dihargai, meski hanya selembar kertas, satu simbol bahwa, merah putih belum pudar di dada para Babinsa yang terasing di pulau terpencil bernama Madura. (red)













