SUMENEP, diluartv.id- Namanya singkat, Juna. Itu saja. Saya mengenalnya hampir 20 tahun. Juna sosok jenaka. Di semua tempat, selalu menebar tawa. Seserius apapun topiknya, ada Juna, berubah cair. Keunikan lain, suaranya keras. Walaupun duduk berhadapan, nada bicaranya terdengar hingga seberang.
Juna. Dulu dia aktivis LSM. Sampai sekarang pun sama, tetap LSM. Pria asal Bluto, Sumenep itu hampir 20an tahun jadi aktivis LSM. Pernah suatu waktu dia bilang ke saya: Mas Didik, jadi wartawan yang konsisten ya. Wartawan yang wartawan. Jangan jadi wartawan yang LSM. Saya juga konsisten, jadi LSM yang LSM. Bukan LSM yang wartawan.
Kalimat yang disampaikan Juna simpel namun kaya makna. Ini adalah kalimat terbaik yang pernah saya dengar dari Aktivis LSM. Kalimat ini berkarakter, anggun, dan punya kedalaman rasa. Ada makna konsistensi disitu. Tentang menjaga sebuah warna.
Dewasa ini, dunia wartawan agak samar. Semuanya ada disini, banyak latar belakang. ID Card dicetak sangat mudahnya. Seragam media dijahit rapi. Mulanya saya senang, punya kolega satu visi. Punya banyak sahabat pena, yang cinta dunia kepenulisan. Saya lalu berpikir, bisa berdiri bersama-sama, membangun karakter Bangsa.
Namun seiring berjalannya waktu, prediksi saya meleset. Makin banyak jumlah wartawan, makin sedikit pula tulisan tercipta. Ini tanda tanya, ada apa? Karena jika bukan menulis, lalu apa profesi sejatinya wartawan? Bukankah pers lahir sebagai pilar demokrasi?
———–
Kembali lagi ke Juna. Saya suka prinsipnya. Dia tak pernah tergoda untuk masuk dalam dunia yang bukan basisnya. Padahal jika mau, bisa saja Juna mengambil ‘keuntungan’ dari dunia kewartawanan.
“Sewa kantor media 10 juta. Bangun website berita termasuk pendirian perusahaan juga 10 juta. Total 20 juta sudah punya perusahaan media. Angkanya relatif terjangkau. Tapi saya kan tidak. Tetap fokus di jalur saya. Karena saya tahu, yang lebih penting adalah karya perusahaan media itu setelah berdiri. Seberapa banyak, tulisan dan artikelnya mampu memberi dampak positif di masyarakat,” kata Juna.
‐——–
Pagi itu, Juna dkk akan menggelar demo di DPRD Sumenep. Soundsystem disiapkan. Mic dicoba berkali-kali khawatir macet.
“Tes, Tes, Testing Voice. Satu, dua, tiga. Suara dicoba, suara dicoba,” kata Juna lewat mic.
Setelah siap, massa menuju ke depan Kantor DPRD. Juna gagah memimpin orasi. Suaranya berapi-api. Dia berdiri di atas pick up. Siang yang panas.
“Hidup Rakyat, Hidup Masyarakat yang tertindas,” kata Juna berulangkali.
Sementara saya, sebagai wartawan, memiliki tugas berbeda. Mengambil foto dan video, serta menjadikannya sebuah berita. (*)
Penulis : Didik Setia Budi
Editor : Ariya Bhaskara Yudhatama







