SUMENEP, diluartv.id- Bahaya setengah mabuk. Nalarnya macet. Otaknya mandek. Tubuhnya labil. Kondisi ini yang menurut teman saya; seorang mantan pemabuk, sangat berbahaya. Orang setengah mabuk bisa berjalan normal. Walaupun agak sempoyongan. Biasanya langkahnya zig zag. Beda dengan yang full mabuk. Dia sudah tidak ingat apa-apa lagi. Tubuhnya loyo, mata terpejam. Diam.
Mengapa saya tertarik menulis bahaya setengah mabuk? Karena jarang-jarang saya bisa duduk dengan teman saya tadi. Pemabuk senior, jam terbang tinggi. Semua sudah dicobanya. Dari miras termurah, sampai yang belasan juta. Pengalamannya harus saya tulis rapi. Disini ada satu hal penting, walaupun ini dosa.
“Kalau mau mabuk, ya mabuk sekalian. Pemabuk harus totalitas. Mabuk kok setengah-setengah, itu bahaya,” katanya lagi di bangku Pelabuhan Kalianget.
“Di Sumenep ini mabuknya lucu. Masa mabuk, bisa balap liar. Mabuk, bisa tawuran. Mabuk, berbuat kriminal. Mereka itu setengah mabuk. Bukan pemabuk sejati. Mabuk kok buat gaya-gayaan. Ndeso. Yang namanya mabuk gak bisa keluyuran,” katanya kesal.
Saya terus menyimak.
“Makanya saya, sebagai mantan pemabuk, kadang ketawa. Misalnya ada judul berita: pelaku kriminal ditangkap dalam keadaan mabuk. Kan aneh, mabuk kok masih bisa maling. Gak bisa itu, tolong diralat. Pasti dia setengah mabuk. Saya tersinggung dengan narasi beritanya,” lanjutnya.
Satu hal lain yang jadi sorotan teman saya adalah fenomena miras oplosan. Ini menurutnya ada di level terburuk dunia pemabuk.
“Saya juga heran, pemabuk Junior sekarang itu aneh-aneh. Pengen mabuk dengan cara mencampur obat-obatan sachet. Ada lotion anti nyamuk bahkan. Ngeri kali sekarang. Dalam rumus pemabuk, itu keliru besar,” katanya tajam.
Di ujung pertemuan, saya nanya: Bang, di Sumenep makin banyak penjual miras. Gimana bang?
“Kalau kios dan toko miras, dari dulu memang ada. Walaupun jumlahnya sedikit. Mereka menjual miras, mirasnya dibawa pulang, yang minum mabuk, tidur lelap di kamar. Lha kalau sekarang kan beda. Tempat karaoke dan sejenisnya jual miras. Yang datang saling joget, kena senggol, tawuran. Sangat berbahaya. Mabuknya setengah-setengah. Kalau benar niat mabuk, ya sudah di rumah saja. Duduk di teras sendiri, minum 5 botol. Mabuk, masuk ke dalam,” katanya mengingatkan.
Eh bang, kok malam-malam gini nongkrong di Pelabuhan?
“Tadi kan saya lihat WA, infonya ada demo ke tempat hiburan malam? Tiba-tiba katanya gagal. Gak tahu kenapa. Asem!
Penulis : Didik Setia Budi
Editor : Aria Bhaskara Yudhatama







