SUMENEP, diluartv.id- Sore itu saya menelepon Bupati Sumenep, tepatnya pukul 14.30 WIB. Beberapa saat sebelum masuk ruang Komisi 1 DPRD Sumenep. Kami diskusi singkat tentang anggaran media. Angkanya besar, Delapan Koma Dua Miliar.
Dari sudut saya, sepertinya Gus Fauzi memang mendukung transparansi anggaran media di semua OPD. Anggaran itu tujuannya untuk membantu kehidupan perusahaan media lokal di Sumenep, agar tumbuh dan berkembang.
“Bukan untuk merangkul dalam tanda kutip ya, justru ingin menciptakan iklim sehat dan kritis. Jadi ada keberimbangan disana. Media dan pemerintah,” kata Gus Fauzi.
Saya tanya lagi, agak sungkan. “Kok nilainya ada yang beda jauh ya Gus? Ada yang kecil, ada juga yang besar?
Dijawab, ya saya gak tahu tentang itu. Kata Gus Fauzi. Saya mengangguk aja. Tapi sepertinya benar, hal teknis gitu gak mungkin selevel Bupati campur tangan.
——–
Sekarang saya sudah di ruang Komisi 1 DPRD Sumenep. Ada beberapa temen wartawan yang juga masuk. Saya duduk berhadap-hadapan dengan Ketua Komisi 1, Darul Hasyim Fath. Total ada sekitar 8 anggota Komisi 1 yang hadir saat itu. Mulailah diskusi anggaran media.
Mas Hambali mulai bicara. Semua mendengar seksama. A-Z diterangkan. Intinya, kalau semangat pemerintah ingin membangun perusahaan media lokal yang sehat, menurutnya kondisi itu belum terwujud. Industri media adalah industri yang menjajah. Perusahaan media besar pasti akan menggencet yang lebih kecil dibawahnya. Saling sikut arus kapitalistik. Ironisnya, ini yang jadi celaka. Kadang media yang mengklaim diri besar, justru tidak begitu dibaca, mereka masih hidup dalam alam dunia fantasi: sebagai media besar dan berpengaruh. Kerdil, tapi mengaku raksasa. Padahal jika buka dashbord, yang baca paling seratusan. Soal kue jangan ditanya, porsinya besar.
Ada yang nanya ke saya. Bang Dik, keuangan Diluar TV gimana? Bingung saya jawabnya. Mau jawab besar, itu namanya pura-pura. Jawab kecil, orang gak percaya. Susah mau dijawab.
‐———–
Staf DPRD mulai keliling membagikan kotak kue ke peserta rapat. Saya lihat sekilas, tahu isi dan lumpur.(*)













