DILUARTV, Sumenep – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, Jawa Timur, kembali menempatkan Festival Musik Tongtong sebagai kartu truf dan magnet utama pariwisata dalam merayakan Hari Jadi Kabupaten Sumenep ke-757. Kesenian perkusi tradisional khas Madura ini diproyeksikan menjadi pintu gerbang utama dalam memperkenalkan identitas kebudayaan serta potensi daerah ke kancah nasional maupun internasional.
Festival tahunan yang selalu dinantikan masyarakat ini bukan sekadar panggung hiburan atau tontonan rakyat semata, melainkan menyimpan potensi ekonomi yang sangat masif untuk menggerakkan ekosistem pariwisata lokal. Mulai dari pelaku UMKM, pedagang kecil, hingga penyedia jasa transportasi dan perhotelan dipastikan memanen keberkahan dari roda perputaran ekonomi yang tercipta selama acara berlangsung.
Nilai strategis ajang ini kian diperkuat usai Festival Musik Tongtong secara resmi tercatat dalam Karisma Event Nusantara (KEN)—sebuah program prestisius dari kementerian nasional yang mendorong promosi berbagai acara unggulan di seluruh Indonesia. Masuknya kesenian tradisional ini ke dalam agenda nasional menjadi modal berharga bagi Sumenep untuk memperluas jangkauan promosi hingga menarik kedatangan wisatawan dari luar Madura.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep, Faruk Hanafi, menegaskan bahwa momentum peringatan hari jadi daerah tidak boleh berhenti pada serangkaian seremoni tahunan. Momen bersejarah ini harus dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat akar kebudayaan lokal sekaligus memperkenalkan potensi daerah kepada khalayak luas.
“Musik Tong-tong merupakan salah satu kekuatan budaya Sumenep yang harus terus kita jaga dan kembangkan. Event ini bukan hanya hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi sarana promosi pariwisata dan identitas daerah,” ujar Faruk Hanafi, Minggu (11/10/2026).
Menariknya, kemeriahan peringatan Hari Jadi Sumenep tidak hanya bertumpu pada keriuhan suara perkusi Musik Tongtong. Pemkab Sumenep memadukan rangkaian perayaan dengan sejumlah agenda lain yang sarat akan nilai historis dan religi, seperti Haul Raja-Raja Sumenep serta prosesi sakral Arya Wiraraja. Perpaduan harmonis ini menghadirkan pengalaman budaya yang utuh: Musik Tongtong menyuguhkan pertunjukan seni yang meriah dan energik, sementara haul para raja dan prosesi sejarah mengajak masyarakat menengok kembali jejak peradaban yang membentuk Sumenep.
Bagi Faruk, kolaborasi berbagai agenda budaya ini menjadi kesempatan emas untuk mempertemukan upaya pelestarian tradisi dengan strategi pengembangan pariwisata modern. Indikator keberhasilan acara budaya ini pun tidak hanya diukur dari ramainya lautan penonton di lokasi kegiatan, melainkan dari manfaat berkelanjutan yang ditinggalkan—mulai dari memupuk kebanggaan warga terhadap warisan leluhur hingga dampak langsung pada perekonomian masyarakat.
“Harapan kami, kegiatan budaya seperti ini terus mendapat dukungan masyarakat. Selain menjaga warisan leluhur, kita ingin semakin banyak orang mengenal Sumenep melalui kekayaan seni, sejarah, dan tradisinya,” pungkasnya.
Dengan terus konsisten mempertahankan agenda budaya sebagai pilar utama perayaan hari jadi, Pemkab Sumenep optimistis kekayaan tradisi lokal dapat bertransformasi menjadi daya tarik wisata yang terus tumbuh secara berkelanjutan.








